4. KING PROTEA (PART ONE) (1/2)
.
.
.
.
seladore
.
.
.
.
my lovely sorachi hideaki (空知英秋) is the original author of the gintama (銀魂) manga, i definitely don't own anything.
.
.
.
note: ooc keras demi keperluan plot.
.
card 3: king protea part 1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
hiraga gengai menyesal membukakan pintu untuk tamu tak diundang hari ini. jika tahu tamunya adalah hijikata toshiro dan okita sougo, dia akan pura-pura tidak ada di rumah dan terus menonton tv sambil mengorek hidungnya. hijikata toshiro memberikan surat penahanan dari satuan kepolisian shinsengumi yang menyatakan dia bersalah atas pencobaan pembunuhan shogun. dalam hati gengai mencaci maki hijikata seorang wakil komandan shinsengumi yang tidak tahu terima kasih karena menangkapnya setelah gengai menolong jiwanya yang masuk ke dalam tubuh suram gintoki sakata. lagipula gengai ingin tahu kenapa shinsengumi baru menangkapnya atas kejahatan yang dia lakukan dulu, setelah ratusan episode berlalu sejak dia mencoba mencelakai shogun di episode 17 season pertama, seharusnya kejahatannya sudah terlupakan.
"s-sebelum aku masuk penjara, a-aku ingin membuat kenang-kenangan!"gengai berkata terbata-bata ketika sougo mengeluarkan borgol dari saku celananya. sougo menghentikan gerakannya, penasaran dengan tindakan gengai, sebetulnya sougo tahu kalau pria tua itu mengulur waktu, tapi dia tertarik akan permainannya.
"apapun itu cepatlah, kakek." hijikata memejamkan matanya lalu mengembuskan kepulan asap rokok.
gengai berbalik membelakangi kedua polisi muda yang tampak ogah-ogahan bertugas mengambil bola kecil seukuran buah ceri berwarna biru, sebelum berbalik lagi dia menyeringai penuh kemenangan. gengai menutup hidung dan mulut dengan telapak tangan kiri, sementara tangan kanannya melemparkan bola biru itu ke tanah, asap segera memenuhi garasi kerja gengai yang penuh barang rongsokan dan bau oli.
"keparat—uhuk…" hijikata menutup hidung dan mulutnya dengan kedua tangannya, lalu terbatuk-batuk. sougo melakukan hal yang sama.
gengai mengambil kesempatan untuk kabur selama hijikata dan sougo tidak dapat melihat, tergopoh-gopoh pria tua itu lari lewat pintu belakang, dia juga menyempatkan diri mengunci pintu belakang itu.
di luar kediaman gengai, shinsengumi divisi satu sudah datang mengepung. kamiyama bersiap-siap memberikan komando kalau-kalau diperlukan. yamazaki berdiri di samping kamiyama, tampak cemas karena wakil komandan dan kapten divisi satu mereka belum kembali setelah lebih dari satu jam.
kamiyama dan yamazaki lalu bertatapan, saling paham apa yang ada di pikiran satu sama lain, mereka berdua berbarengan mengangguk, kemudian mendo
ak pintu dan berjalan masuk ke bengkel gengai dengan hati-hati.
"fukuchou!"yamazaki berseru sambil mengitari bengkel bo
ok itu, "okita-taichou!"
"yamazaki-san, lihat itu!" kamiyama menunjuk ke bagian dalam bengkel, di dekat tumpukan rongsokan besi terlihat dua orang pria yang tergeletak.
"tidak mungkin!" pikiran buruk mulai memenuhi kepala yamazaki, walaupun sebetulnya dia yakin orang seperti gengai tidak mungkin sampai hati mencelakai mereka berdua, namun siapa tahu terjadi kecelakaan, "fukuchou! okita-taichou!"
yamazaki dan kamiyama mendekat, berusaha agar tidak panik, namun sebelum disentuh yamazaki dan kamiyama, kedua pemuda itu menggeliat bangun.
"syukurlah, okita-taichou!"kamiyama berseru, dia kelepasan memeluk sougo, tetapi kemudian buru-buru melepaskan pelukannya ketika melihat tatapan tajam si wakil komandan. hijikata memang tidak peduli jika anggota shinsengumi punya hubungan asmara, seksual, dan sejenisnya baik dengan lawan jenis, sesama jenis, bahkan beda spesies. namun dia tidak akan mentolerir anggota yang mesra-mesraan saat bertugas. menurut hijikata itu tidak profesional dan berkesan meledeknya.
"m-maaf fukuchou, a-aku..." kamiyama tergagap, dia yakin dirinya pasti dihukum.
"ha? kenapa minta maaf? kau mau homo kek apa kek... kaupikir aku peduli? kalau wanita cantik, baru aku pikirin... " kata hijikata, dia mengupil, lalu berbaring menyamping. perilaku hijikata mengingatkan yamazaki dan kamiyama pada seseorang yang berambut perak, namun sebelum mereka bertindak lagi, suara sougo mengalihkan mereka.
"kamiyama, kau ini sedang apa?" tanya sougo.
"m-maaf, taichou... aku kelepasan, m-maaf!"
sougo memijat keningnya, "tidak masalah sih tapi... ya ampun, aku begitu mempesona sehingga baik laki-laki atau pun wanita menyukaiku... i'm so beautiful, menjadi tampan adalah dosa berat….."
"o-okita-taichou?" yamazaki dan kamiyama mulai berkeringat dingin.
"tampan itu memang dosa ya, zaki-pyon, kami-chin..." sougo mengibaskan poninya yang halus, dan dalam pandangan kamiyama dan yamazaki rambut itu halusnya bagaikan helaian sutra. efek merah muda seolah terlihat, wangi bunga mawar menyentuh indra penciuman, dan lagu piano concerto no. 1 in e flat major, s. 124 (lw h4) ciptaan franz liszt tiba-tiba terdengar mengalun.
"oi, kalian berdua, cepat bawa tandu, aku ingin pergi dari tempat pengap ini tapi kakiku tidak mau bergerak lagi. aku lelah sekali. ck, benar-benar merepotkan." hijikata masih berbaring di tempat semula, bahkan enggan menggerakkan jarinya.
"gyaaaaaaaaaaa!"
suara jeritan yamazaki dan kamiyama itu mengakhiri aksi penangkapan mereka hari ini.
.
.
.
.
.
.
"kondo-san, hijikata-san bilang dia sedang tidak enak badan, makanya dia tidak bisa ikut rapat." yamazaki melapor, dia tampak gelisah. di ruangan rapat markas shinsengumi, seluruh anggota shinsengumi sudah berkumpul untuk merencanakan penangkapan sekelompok kriminal yang kabarnya belakangan ini beraksi di chofu.
"tidak biasanya toshi bolos rapat karena alasan seperti itu," kata kondo, dia tampak terkejut, "malahan, dia tetap bekerja saat sedang mencret bulan lalu,"
kemudian pintu shoji bergeser, okita sougo muncul di ambang pintu. senyum lebar mengembang di wajahnya, kilat riang terlihat di mata besarnya. ekspresi yang hanya pernah dia tunjukkan di depan okita mitsuba kini dapat dilihat semua orang di markas.
"kondo-chama, toshi-rin sedang istirahat di kamar, tidak perlu diganggu, kita lanjutkan saja rapatnya," kata sougo, suaranya terdengar lebih tinggi dari biasa. seisi ruangan menatap sougo dengan mata terbelalak dan mulut terbuka.
"okita-taichou... a-anda tidak melakukan hal aneh-aneh kan padanya?" yamazaki tergagap, bayangan bagaimana sougo mungkin sudah membunuh hijikata membuatnya bergidik takut.
sougo memejamkan matanya, "apa maksudmu zaki-pyon? aku hanya membuatkan zenzai untuknya dan menyuapinya, tentu saja perbuatanku belum seberapa jika dibandingkan dengan kebaikan toshi-rin selama ini, oh my poor
other."
kondo, yamazaki, dan seluruh anggota shinsengumi merinding. sougo duduk bersimpuh di sebelah kondo, senyuman ramah masih terpanjang di wajahnya.
kondo mengalihkan pandangannya dari sougo, lalu mendekatkan wajahnya ke yamazaki, berbisik, "ada yang tidak beres di sini, kita harus berbuat sesuatu,"
"kemungkinan ini ulah gengai, apa kita harus mencari dia?" usul yamazaki cepat.
"betul juga, ini akan sulit, tetapi kita harus melakukannya demi toshi dan sougo, yamazaki... cepat kerahkan seluruh anggota untuk mencari gengai," perintah kondo.
"kondo-chama, kalian sedang membicarakan apa?" tanya sougo, masih tersenyum.
dengan panik kondo menggeleng, "t-tidak apa-apa, sougo,"
"teganya kalian menyembunyikan sesuatu dariku..." sougo berkata lirih.
"b-bukan begitu sougo, kami tidak menyembunyikan apa-apa kok, namun memang ada beberapa hal yang harus kami sembunyikan, he, he, he," jawab kondo tidak jelas, dia melirik yamazaki untuk minta bantuan, namun yamazaki hanya ikut terkekeh karena tidak punya ide untuk membantu menjawab.
sougo memperlihatkan senyuman lebar—memamerkan deretan giginya yang putih, "baiklah kalau begitu," kemudian tertawa kecil, kini cara tertawanya lebih sesuai dengan wajahnya—dia jadi terlihat manis. aura gelap yang biasa ditebar sougo juga menjadi lebih ramah dan menenangkan. kondo dan yamazaki tanpa sadar terhanyut dalam sosok baru okita sougo, jantung mereka berdebar dan wajah mereka bersemu merah.
rasanya sougo yang seperti ini tidak buruk juga. pikir keduanya dalam hati.
.
.
.
.
.
"paket! ding dong! ding dong!"