1. Chapter 1 (1/2)

Not Like This CALIC0 40520K 2021-07-31

beelzebub (c) tamura ryouhei

in my veins adalah karya thecurtaincall(ffn 9431608/1/in-my-veins).saya hanya menerjemahkan setelah mendapat izin pembuatnya demi kepuasan pribadi.

.

.

"lamia mengatakan dia sudah ada di pintu masuk."

"tunggu kami, oga!"

remaja babak belur dan kotor berlari mengitari sekolah menuju pintu masuk bangunan. oga dengan cepat mampu membentuk jarak yang lebar antar dirinya dan mereka, berlari ke tujuan. dalam genggamannya telah terkumpul potongan jiwa yang telah oga rebut dari para musuh. tubuh-tubuh tak sadar bergelimpangan, namun takamiya entah di mana.

akan tetapi, oga tidak bisa berurusan dengan hal-hal itu sekarang. ia harus segera mengembalikan jiwa furuichi sebelum matahari terbit. pikiran itu membuatnya berlari kian cepat, beel bahkan menyemangatinya untuk mempercepat langkah. tangan oga mulai lecet berkat panas yang teradiasi oleh potongan jiwa tersebut.

ketika ia memutar dan pintu masuk terlihat dekat, senyum muncul di wajah. lamia keluar dari alaindelon, yang kemudian menarik keluar furuichi yang penuh balutan dari dalam tubuhnya. pakaiannya telah digantikan oleh balutan tebal perban yang dibalut pula oleh mantel penuh darah.

oga tidak membuang waktu, segera berlutut di sebelah sahabatnya. "apa yang harus kulakukan?" tanyanya tak sabaran. matanya menatap pada langit. waktunya hanya sampai matahari terbit dan bila terlambat maka furuichi akan-

"da!" beel berteriak kencang dekat telinganya, diikuti tangan yang menjambak rambut oga. ia menggerutu kesal, namun menghargai niatan beel mengingatkannya pada apa yang mesti ia lakukan.

lamia mengangkat furuichi sehingga sekarang ia dalam posisi duduk bersandar pada dada lamia. tangan lamia menyentuh dada furuichi, fokus pada dada yang tak bergerak naik turun.

lainnya kemudian berhasil mencapai pintu masuk dan oga dapat merasakan tatapan penuh waspada terhadap furuichi. ya, mereka memiliki hak untuk khawatir dengan remaja yang biasa tak pernah diam namun kini pucat, terkover perban dan darah.

tepukan tangan menyadarkannya kembali pada si dokter. "dekatkan potongannya pada dada furuichi. seharusnya itu berhasil mengembalikan jiwanya."

mengambil potongan yang telah berhasil diperoleh dari para musuh, oga meletakkan potongan-potongan itu di atas perban.

sunyi menyelimuti, semua menahan napas. namun furuichi masih diam walau oga telah menekan keras potongan-potongan itu ke dadanya.

"tidak terjadi apa-apa!" oga gusar.

"mungkin harus pada kulitnya langsung?" pikir lamia kencang.

secepat kalimat tersebut terlontar, secepat pula itulah oga mengoyak perban.

"hey! pelan-pelan, dia terluka!" komando dianggap angin lalu dan oga baru berkenti ketika perban memperlihatkan lubang mengangga pada dada si silver.

darah segar menetes dari luka yang tak terbalut dan oga mendengar seseorang di belakangnya mengutuk kaget. kemungkinan kanzaki. lainnya menatap luka dan bertanya-tanya bagaimana furuichi dapat sembuh dari luka sefatal ini.

lubang lebar pada dada sahabatnya membuat isi perut seakan berbalik, seraya aroma kuat darah yang menyerang penciuman. namun, oga mendorong, menekan keras potongan-potongan pada dada yang dingin. tak terjadi apa-apa. oga membuka mulut, hendak menumpahkan emosi pada si dokter ketika sebuah reaksi dari furuichi diperolehnya.

tetapi reaksi itu … bukanlah yang ia harapkan.

si surai silver membuka mata perlahan dan teriakan terkoyak kencang dari tenggorokkan. tubuhnya berkelojot menjauh dari dekapan lemah lamia dan lainnya menyaksikan dengan campuran keterkejutan dan ketakuan.

"apa dia berhalusinasi?!"

"fuck!"

"tahan tubuhnya sebelum dia membuka jahitan di punggungnya!"

"furuichi, tenang! oi, bodoh! tenang!" perintah oga sembari mencengkeram pundak furuichi. oga menahannya dengan mendekap tubuh itu erat di depan dada, berusaha membuatnya tenang.

"hey, hey! kamu membuat perempuan ketakutan! tenanglah!" furuichi seakan tak menyadari terikan oga. ia melanjut teriak dan memberontak dari dekapan oga.

dengan oga menahan remaja tersebut, oga mengetahui momen ketika tubuh itu bergetar lalu teriakannya berhenti. tak ada lagi teriakan keluar dari mulutnya, yang ada justru batuk darah, mengotori dagu dan kerah mantelnya.

dengan horor oga menemukan mata furuichi kosong dan berbalik. detakan jantung yang tadi berlari kencang perlahan melemah, nyaris tak terasa lagi.

dari arah belakang, matahari muncul, sinarnya bersapa dengan punggung tegak oga.

mereka terlambat. ia terlambat.

bola mata oga membundar lebar. ditatapnya tubuh sahabatnya dengan wajah tak berekspresi. semuanya berdiri dalam kengerian, seluruh mata terpaku pada remaja bersurai silver yang kini tak lagi bernapas.

sinar matahari kini menyelimuti nyaris seluruhnya, hari baru dimulai. burung berkicau dan dunia bangun dari dekapan mimpi.