1. Chapter 1 (1/2)
_(meanie).(trash)_ & ochi_noona
proudly present
a collaboration fanfiction entitled:
the other side
.
.
.
main cast: yoon jeonghan, kim mingyu, choi seungcheol, lee jihoon(gs), jeon wonwoo
other cast : the rest of svt members
yaoi / bl & straight
rate : m
.
typo epriwer!
.
.
.
enjoy reading :)
.
.
.
seorang anak laki-laki berusia 13 tahun tengah meringkuk di pojok ruangan kamar. dia terlihat ketakutan sambil berkali- kali menatap cemas ke arah pintu. bibirnya sedang mencebik menahan tangis. tangannya menelungkup memeluk tubuhnya sendiri, mengabaikan luka bakar berbentuk bulat-bulat kecil di sekujur tangan dan kakinya diakibatkan sundutan rokok.
lalu samar terdengar suara langkah kaki menuju ke arahnya dan membuka pintu. anak laki-laki itu menunduk takut dan memejamkan matanya erat.
"disini kau rupanya bocah sialan!" suara seorang lelaki menggelegar. lelaki itu menyambar kerah baju anak laki-laki itu dan membuatnya berdiri, menyeretnya lalu menghempaskan ke ranjang. lelaki itu itu menyeringai dan perlahan naik ke atas ranjang, matanya berkilat. membuat anak laki-laki itu merintih takut.
"appa...jangan...sakit appa..." anak laki-laki itu nyaris menjerit ketika lelaki itu mengarahkan rokoknya yang menyala ke urat nadi tangan kirinya.
"tidaaaaaaaaaakkkkkkk!" anak laki-laki itu menjerit dan memejamkan matanya.
saat dia membuka mata, dia terengah, dan memeluk tubuhnya. dia mengedarkan pandangannya dan menatap kamarnya yang berantakan. tubuhnya gemetaran. keringat dingin membanjiri kening dan lehernya. dia mengerjapkan matanya cepat lalu bangun dan berjalan menuju kamar mandi.
setelah sampai di depan wastafel dan membasuh wajahnya, dia menatap pantulan bayangannya di cermin atas wastafel. wajahnya terlihat pucat dan tatapan matanya sayu.
"mimpi sialan..." lirihnya sambil mencengkeram erat pinggiran wastafel.
"oh... ayolah jeonghanie... aku sudah sepekan tak bertemu dengannya. aku bahkan sudah meminta manager oppa untuk mengosongkan jadwalku hari ini. tak bisakah aku menemuinya?" rajuk seorang yeoja mungil yang tengah menatap memelas kepada namja cantik dihadapannya.
"kau tahu dia sangat sibuk mempersiapkan acara charity minggu depan jihoonie. aku bahkan seharian kemarin tak berbicara sama sekali dengannya karena kami sama-sama sibuk," sahut jeonghan sambil memilah-milah kertas yang berada di hadapannya.
yeoja bernama jihoon itu mempoutkan bibirnya, "aku ini tunangannya, tak seharusnya aku diperlakukan seperti ini."
jeonghan mendesah dan menatap jihoon, "aku tahu, aku akan berbicara padanya nanti kalau aku sempat ne..." jeonghan memfokuskan pikirannya pada lembaran kertas di hadapannya lagi.
"arraseo... hubungi aku hari ini juga. kau tahu aku benci menunggu terlalu lama," jihoon berdiri, meraih tas'nya dan melangkah pelan keluar ruangan.
jeonghan menghembuskan napas berat dan menundukkan kepalanya. lagi, kepalanya berdenyut ketika dia sedang merasa stress dan di bawah tekanan seperti ini. tangan kanannya terangkat dan meremas surai kecoklatannya. beberapa detik kemudian dia mendongak pelan dan tersenyum miring.
berjalan pelan dan percaya diri menyusuri lorong menuju dapur, senyuman miring itu tak lepas dari bibir tipis jeonghan, membuat beberapa karyawan menatapnya aneh.
"psst... seokmin hyung, lihat itu. lagi-lagi dia mendatangi chef mingyu. sepertinya mereka memang sepasang kekasih..." bisik seungkwan kepada seokmin yang berjalan disebelahnya.
"mollayo... aku tidak yakin. terkadang mereka berbincang seperti teman biasa, namun aku juga sering melihat mereka terlalu dekat," ujar seokmin.
tugas seungkwan sebagai pelayan memang mengharuskannya untuk stand-by di depan untuk menyambut dan melayani tamu yang datang, sementara seokmin yang bertugas sebagai asisten chef membuatnya lebih sering melihat interaksi jeonghan dan mingyu di dapur.
"mwo? wah, kalau seperti itu aku yakin kalau mereka itu ad-"
"waktunya bekerja," ucap hansol yang tiba-tiba muncul di belakang mereka, dia menarik lengan seungkwan, kekasihnya, dan memberikan tatapan -hentikan ocehanmu- pada seungkwan.
"yak, hansol-ah... aku belum selesai berbicara dengan seokmin hyung," protes seungkwan sambil memajukan bibirnya, dengan tangan yang masih di seret hansol menuju posisi mereka seharusnya berada.
"boo, aku tidak suka kau bergosip seperti itu," hansol menghentikan langkahnya, lalu mengusap tangan seungkwan yang ditariknya tadi.
"aku tidak bergosip! aku hanya me-"
"sssttt!" hansol meletakkan telunjuknya di bibir seungkwan agar kekasihnya itu berhenti bicara.
"di tempat seperti ini, kau harus bisa menjaga ucapanmu jika ingin bertahan. butakan matamu dan tulikan telingamu pada hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan dirimu," hansol menatap mata sang kekasih yang tengah merengut sebal karena diceramahi.
"arasseo!" ucap seungkwan singkat.
"my boo, aku mengatakan ini semua demi kebaikanmu, hm?" bujuk hansol sambil mengenggam kedua tangan seungkwan.
"eumm, aku mengerti," seungkwan mengangguk sambil tersenyum kecil membuat hansol tersenyum lega.
"nah, sekarang waktunya kita bekerja. hwaiting!"ucap hansol sambil mengacak lembut rambut sang kekasih sebelum meninggalkannya menuju bar.
"tck, gara-gara manajer itu, aku jadi diceramahi hansol," gerutu seungkwan.
sementara itu, saat memasuki dapur, perhatian jeonghan langsung tertuju kepada sosok tegap yang sedang berdiri di dekat kompor dengan posisi membelakanginya. masih tersenyum dan menatap punggung itu, jeonghan mendekati lelaki itu. para pelayan dan chef lain yang berada di dapur itu sudah terlalu terbiasa dengan jeonghan yang seringkali mendatangi mingyu. mereka tidak ambil pusing dengan apa yang kedua orang itu lakukan, yang perlu mereka lakukan adalah pura-pura tidak melihatnya jika masih ingin bekerja di situ, karena mereka tahu jika jeonghan adalah teman akrab pemilik hotel tersebut. semua orang, kecuali satu, seokmin.
"hmmm...harum..." bisik jeonghan ketika sudah berada di belakang lelaki itu. lelaki itu menoleh dan sedikit terkejut mendapati jeonghan sedang berdiri tepat di belakangnya.
"aish...kau membuatku kaget hyung..." ucap lelaki itu, meneruskan kegiatannya memasak.
"dan kau membuatku lapar mingyu-ya," ucap jeonghan dengan senyum menggoda di wajahnya.
melihat hal tersebut, mingyu tahu jika yang sedang berada di hadapannya ini adalah sosok lain seorang yoon jeonghan, sosok yang angkuh, percaya diri dan errr... liar, terutama di atas ranjang, sosok yang mingyu sukai.
"kau mau makan apa hyung, biar aku siapkan," ujar mingyu, meskipun dia yakin bukan makanan yang jeonghan inginkan saat ini.
"kau tahu yang aku maksud kim," desis jeonghan dengan tatapan seduktifnya.
"kau harus menunggu untuk yang satu itu hyung, aku sedang bekerja sekarang," jelas mingyu dengan berbisik di telinga jeonghan dan dengan sengaja meniupnya, membuat jeonghan memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya.
setelah dirasa mingyu menjauh dari telinganya, jeonghan pun membuka mata dan menatap mingyu sambil tersenyum miring. mingyu tahu arti tatapan itu.
"aku akan selesai dalam tiga puluh menit, " mingyu melirik jam tangannya sekilas, berharap jeonghan mau mengerti.
"baiklah, kau tahu aku menunggu dimana," jeonghan mengedipkan sebelah matanya.
setelah mengucapkan hal tersebut, jeonghan melangkah mundur sambil masih menatap mingyu dan meniupkan flying-kiss pada mingyu yang masih menatapnya.
keduanya tidak menyadari keberadaan seokmin tengah menyibukkan diri berkutat dengan perlatan memasak sambil sesekali melirik ke arah mingyu dan jeonghan yang saling tatap, termasuk acara flying-kiss itu.
"aigoo, sepertinya aku harus mengakui kebenaran kata-kata boo tadi," gumam seokmin.
setelah jeonghan benar-benar pergi dari dapur, mingyu meneruskan kegiatan memasaknya. dia menyempatkan diri untuk mandi setelah beberes dapur dan menyemprotkan sedikit parfum di leher dan nadinya.
mingyu memasuki ruang kerja jeonghan tanpa merasa perlu mengetuk pintunya lagi. dia menemukan jeonghan tengah sibuk berkutat dengan setumpuk dokumen di mejanya dan tampaknya dia tidak menyadari kehadiran mingyu di ruangannya.