2. Chapter 2 (1/2)
the other side
.
.
.
main cast: yoon jeonghan, kim mingyu, choi seungcheol, lee jihoon(gs), jeon wonwoo
other cast : the rest of svt members
yaoi / bl & straight
rate : m
.
.
.
seorang yeoja mungil tengah duduk di kursi sebuah restoran. di hadapannya sudah ada 2 gelas jus yang sudah kosong dan segelas jus strawberry yang baru diminum setengah. berkali-kali dia menghembuskan napas tak sabaran, dan mengecek jam tangannya berkali-kali. dia berusaha menenangkan diri dan meraih ponselnya, mencoba menelpon seseorang.
"yoboseyo," sahut orang di seberang telepon jihoon.
"jeonghannie...kau yakin sudah memberitahu cheolie tentang makan malamnya?"
"tentu saja, dia bilang akan kesana jam 7,"
"lalu kenapa dia belum datang? aku bahkan hampir menghabiskan 3 gelas jus," desisnya kesal.
"omo, kau sudah disana 2 jam? perlu aku telpon dia lagi untukmu jihoonie?"
"tak usah, aku mau pulang saja, aku sudah lelah!" sentak jihoon, dia melemparkan ponselnya ke dalam tas, lalu menarik dua lembar uang dari dompetnya dan meletakkannya di meja.
dia tahu tak seharusnya dia marah-marah pada jeonghan. tapi kekesalannya pada seungcheol sudah mencapai batasnya. belum pernah dia merasa sekesal ini. dia berjalan terburu-buru menuju pintu keluar restoran hingga mena
ak seorang lelaki yang akan masuk ke dalam restoran, membuatnya terhuyung ke belakang. pinggulnya hampir menyenggol sudut meja restoran, dia memejamkan matanya, menunggu rasa sakit datang. hingga dia merasa lengannya digapai seseorang, sehingga dia tidak membentur sudut meja.
"kau tak apa jihoonie?" tanya lelaki yang memegang lengan jihoon.
jihoon tercekat, dia membuka matanya dan menatap tangannya yang dipegang lelaki itu. dia kenal betul suara ini. dia menghembuskan nafas kasar, menepis tangan si lelaki dan mencoba berdiri. lalu melanjutkan langkahnya menuju jalan raya. tapi lelaki tadi malah mengekorinya.
"jihoonie...kau mau kemana? aku sudah disini," seru sang lelaki tadi, berusaha menjajari langkah jihoon.
"aku mau pulang. kau makan saja sendiri disana, aku sudah tak berselera," ketus jihoon.
lelaki itu mendahului langkah jihoon dan berhenti di depan yeoja mungil itu. "ayolah lee jihoon. aku tahu aku salah karena sudah membiarkanmu menunggu. setidaknya aku sudah mencoba untuk datang, aku bahkan belum menjelaskan kepadamu mengapa aku datang terlambat. maafkan aku..." lelaki itu memegang kedua sisi lengan jihoon dan menatap yeoja mungil itu.
"choi seungcheol... sudah seminggu aku datang ke hotel. tapi bahkan kau tak mau menemuiku sebentar saja untuk menyapaku. pernahkah kau menjelaskan padaku hal penting apa yang kau urus hingga kau memilih tak memperdulikanku?" jihoon mendesis dan menatap tajam lelaki di depannya.
seungcheol menunduk, tak sanggup berkata-kata. dia mengakui bahwa perkataan jihoon benar. tak seharusnya dia mengabaikan jihoon dan lebih mementingkan pekerjaannya.
"maafkan aku jihoonie..." lirih seungcheol.
"sudahlah, aku mau pulang," jihoon melanjutkan langkahnya, memilih meninggalkan seungcheol di belakangnya dan mencari mobilnya agar dia bisa segera pulang. tapi setelah beberapa langkah dan menoleh kesana kemari, dia tak menemukan mobilnya beserta sopirnya. dia menghembuskan napas keras dan menoleh ke belakang, ke tempat seungcheol masih berdiri disana.
"apa yang kau lakukan pada park ahjussi?" tanya jihoon.
seungcheol sedang berdiri menghadap jihoon dan memasukkan kedua tangannya di saku celananya. dia memandang jihoon dengan sedikit tersenyum, "aku memintanya kembali duluan agar kau bisa pulang bersamaku jihoonie sayang," ucap seungcheol lembut.
"ugh...aku membencimu seungcheol," jihoon berjalan ke arah mobil seungcheol sambil menghentak-hentakkan kakinya.
"aku juga mencintaimu jihoon sayang," balas seungcheol, mengekori jihoon sambil tersenyum melihat jihoon yang masih kesal.
###
di sebuah ruangan hotel berkelas, mingyu sedang asik mencumbu yeoja yang baru ditemuinya itu ketika mendengar ponsel yang diletakkannya di meja nakas berbunyi.
mingyu pun bangkit dari tubuh yeoja yang ditindihnya dan melihat ponselnya, menimbulkan decakan kesal dari sang yeoja yang sudah diliputi nafsu itu.
jeonghannie hyung is calling...
mengetahui jeonghan yang menelponnya, mingyu pun meletakkan kembali ponselnya ke meja nakas tanpa berniat menjawab panggilan masuk tersebut karena dia masih kesal dengan kejadian sore tadi. mingyu pun mulai kembali menindih sang yeoja yang segera mengalungkan lengannya ke leher mingyu, dan meneruskan cumbuan panas mereka. namun dering ponsel yang tidak kunjung berhenti, membuat mingyu geram dan akhirnya dia memutuskan untuk mengangkatnya.
"ada apa? jika tidak penting akan kututup teleponnya!"
"kim mingyu..." suara jeonghan terdengar lemah.
mingyu tercekat. dia menyadari jika ini adalah jeonghan yang sama dengan yang menggodanya siang tadi di dapur.
"wae? kenapa aku harus? aku melakukan hal yang menyenangkan disini,"
"aku sedang berada di rooftop... dan aku teringat pada bajingan tua itu..."
tut...tut...tut...
panggilan tersebut pun diakhiri oleh jeonghan.
"fuck!"
mingyu pun dengan cepat merapikan pakaiannya dan menaikkan celananya dengan tergesa. yeoja yang tegah berbaring dengan keadaan setengah telanjang itu pun kaget dengan tindakan mingyu.
"yak! kau mau kemana?"
"aku ada urusan penting,"jawab mingyu yang sudah kembali berpakaian rapi.
cup.
mingyu pun memberikan kecupan singkat kepada sang yeoja dan berjalan ke arah pintu untuk meninggalkan kamar itu.
"maybe next time baby~"ucap mingyu dengan seringai seksinya sebelum menutup pintu kamar tersebut, meninggalkan sang yeoja yang berteriak frustasi di dalamnya.
mingyu menginjak pedal gas dalam-dalam, berharap dia segera sampai di hotel dan bertemu jeonghan. demi tuhan apapun yang sedang dipikirkan jeonghan, semoga dia tak berniat untuk mengakhiri hidupnya dengan terjun bebas dari rooftop. segera setelah sampai di hotel, mingyu dengan kalapnya berlari menuju lift yang hampir menutup. beruntung berkat kakinya yang jangkung, dia berhasil masuk ke dalam lift tepat waktu, walau pundaknya terasa sedikit pegal karena mena
ak pintu lift.
"come on come on come on come on..." rapal mingyu lirih. dia mengutuk bos dan arsitek hotel ini yang membiarkan hotel ini mempunyai 33 lantai. mingyu mencengkeram erat ponselnya di sisi tubuhnya. telapak tangannya mulai berkeringat. dia menahan nafas karena menyadari bahwa detak jantungnya terdengar begitu keras di telinganya.
ketika pintu lift berdering terbuka, dia berlari ke arah tangga menuju rooftop. dengan tak sabarannya dia meraih gagang pintu yang terasa licin karena keringat di telapak tangannya. sejurus kemudian dia membelalakkan mata ngeri memandang jeonghan yang sedang duduk di tembok pembatas rooftop yang hanya setinggi pinggang orang dewasa.
"hyung..." panggil mingyu. tapi sosok di depannya diam membeku seakan tak mendengar suara mingyu.
"berhentilah..." bisik jeonghan setelah mingyu berada beberapa meter di belakangnya.
"jangan lakukan ini hyung... kumohon..." lirih mingyu, kakinya berusaha tetap melangkah mendekati jeonghan. tinggal semeter lagi. tangan kanan mingyu memegang pundak kanan jeonghan dan meremasnya.
"ayolah hyung... kemarilah, aku tak suka pemandangan di bawahmu itu..." mingyu merengek, terlihat sedikit ketakutan.
"kau tahu...aku bahkan sudah lupa wajah lelaki
engsek itu. tapi malam ini dengan seenaknya bayangannya muncul di hadapanku. aku takut, aku takut dia akan mendatangiku gyu..." jeonghan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, badannya terhuyung ke depan, membuatnnya hampir terjatuh.
dengan perasaan ngeri, mingyu memejamkan matanya, tangan kirinya menggapai pinggang jeonghan dan melingkari perut jeonghan, wajah mingyu tenggelam di lekukan perpotongan leher jeonghan.
"ayo pergi dari sini hyung, kau boleh minta apapun padaku. asal jangan minta aku menemanimu disini, kau tahu aku benci ketinggian," mingyu mengeratkan tangannya melingkari tubuh jeonghan.